Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara

IMG-20170513-WA0053

Oleh : dr. Deky Atmadja

Pola penyakit saat ini telah mengalami transisi epidemiologi yang ditandai dengan beralihnya penyebab kematian yang semula didominasi oleh penyakit menular bergeser ke penyakit tidak menular (non-communicable disease) termasuk diantaranya penyakit kanker.

Perubahan pola penyakit tersebut sangat dipengaruhi oleh keadaan demografi, sosial ekonomi, dan sosial budaya. Salah satu diantaranya ialah kanker serviks atau kanker leher rahim dan kanker payudara, dimana penyakit tersebut menjadi hal yang menakutkan bagi setiap wanita.

Berdasarkan data WHO sejak 2005 penyakit kanker merupakan penyebab kematian terbanyak di dunia, dimana kanker sebagai penyebab kematian nomor 2 di dunia sebesar 13% setelah penyakit kardiovaskular. Setiap tahun, 12 juta orang di dunia menderita kanker dan 7,6 juta diantaranya meninggal dunia. Diperkirakan pada 2030 kejadian tersebut dapat mencapai hingga 26 juta orang dan 17 juta di antaranya meninggal akibat kanker, terlebih untuk negara miskin dan berkembang kejadiannya akan lebih cepat.

Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi tumor/kanker adalah 1,4 per 1000 penduduk. Prevalensi kanker tertinggi terdapat di DI Yogyakarta (4,1‰), diikuti Jawa Tengah (2,1‰), Bali (2‰), Bengkulu dan DKI Jakarta masing – masing 1,9 per mil.

Kanker tertinggi di Indonesia pada perempuan adalah kanker payudara dan kanker leher rahim. Berdasarkan estimasi Globocan, International Agency for Research on Cancer (IARC) tahun 2012, insidens kanker di Indonesia 134 per 100.000 penduduk dengan insidens tertinggi pada perempuan adalah kanker payudara sebesar 40 per 100.000 diikuti dengan kanker leher rahim 17 per 100.000 dan kanker kolorektal 10 per 100.000 perempuan. Berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) 2010, kasus rawat inap kanker payudara 12.014 kasus (28,7%), kanker leher rahim 5.349 kasus (12,8%).

IMG-20170509-WA0011

Kanker Laher Rahim
Kanker Leher Rahim atau Kanker Servik adalah kanker yang menyerang pada bagian organ reproduksi kaum wanita, tepatnya di daerah leher rahim atau pintu masuk ke daerah rahim yaitu bagian yang sempit di bagian bawah antara kemaluan wanita dan rahim.

Penyebab utama Kanker ini adalah adanya paparan/infeksi dari Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini ditemukan pada 95% kasus Kanker Leher Rahim. Ada dua golongan HPV yaitu HPV resiko tinggi atau HPV onkogenik antara lain HPV tipe 16, 18 dan 31, 33, 45, 52, 58 sedangkan HPV resiko rendah atau HPV non-onkogenik antara lain HPV tipe 6, 11, 32 dsb.

Proses terjadinya kanker leher rahim sangat erat hubungannya dngan proses metaplasia. Masuknya mutagen atau bahan-bahan yang dapat merubah perangai sel secara genetik pada saat fase aktif metaplasia dapat berubah menjadi sel yang berpotensi ganas. Sel yang mengalami mutasi displastik dan kelainan epitel disebut displasia. Lesi displasia dikenal sebagai lesi prakanker. Dari lesi prakanker sampai berkembang menjadi kanker memakan waktu 3-17 tahun.

Faktor resiko kanker leher rahim adalah : menikah/memulai aktivitas seksual pada usia kurang dari 20 tahun, berganti-ganti pasangan, riwayat infeksi daerah kelamin atau panggul, perempuan melahirkan banyak anak, perokok.

Deteksi dini/skrining kanker leher rahim bertujuan untuk menemukan lesi prakanker, beberapa metode yang umum diantaranya : Papsmear dan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA). Deteksi dini dengan metode IVA saat ini menjadi program nasional karena mudah dilaksanakan, murah, cepat dan mempunyai nilai akurasi yang cukup tinggi.

Kelompok sasaran skrining ditujukan kepada perempuan berusia 30-50 tahun atau kurang dari 30 tahun yang sudah aktif berhubungan seksual, perempuan yang menjadi klien pada klinik Infeksi Menular Seksual (IMS), perempuan yang menjadi klien pada klinik KB
Seseorang perempuan yang mendapatkan hasil tes IVA negatif harus menjalani skrining 3-5 tahun sekali dan bagi yang tes IVA positif akan mendapatkan pengobatan serta harus menjalani tes enam bulan berikutnya.

Pelayanan IVA diberikan oleh petugas kesehatan (Bidan/Dokter Umum/Dokter Spesialis Kandungan) yang terlatih IVA. Pelayanan dapat dilakukan di puskesmas dan jejaringnya, klinik dan tempat praktek swasta.
Terapi diberikan berdasarkan ringan beratnya proses kanker tersebut.

Kanker Payudara
Kanker Payudara adalah kanker yang menyerang pada payudara dapat berasal dari kelenjar, saluran, jaringan lemak maupun jaringa ikat payudara.
Sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti yang menjadi penyebab utama kanker ini.

Faktor resiko utama kanker payudara berhubungan dengan keadaan hormonal (esterogen dominan) dan genetik. Faktor gaya hidup tidak sehat, riwayat radiasi, obat-obatan hormonal, menstruasi pertama kurang dari umur 12 tahun, menopause lebih dari umur 50 tahun, tidak pernah melahirkan, tidak pernah menyusui dan melahirkan anak pertama usia lebih dari 35 tahun juga menjadi faktor resiko terjadi kanker payudara.

Deteksi dini/skrining kanker payudara bertujuan untuk mendeteksi dan mengindentifikasi secara dini adanya kanker payudara. Skrining dapat dilakukan dengan menggunakan alat-alat pemeriksaan mutakhir seperti ultrasonografi (USG), mamografi dan pemeriksaan payudara oleh tenaga kesehatan terlatih (SADANIS) serta pemeriksaan payudara sendiri (SADARI).

Penemuan dini melalui SADANIS dan SADARI diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian serta meningkatkan kualitas hidup kaum perempuan.

Alasan utama meningkatnya kanker leher rahim dan kanker payudara di negara berkembang adalah karena kurangnya program skrining yang efektif dengan tujuan untuk medeteksi keadaan sebelum kanker maupun kanker pada stadium dini termasuk pengobatannya sebelum proses infasif yang lebih lanjut. Hal ini mungkin ada kaitannya dengan, sekitar sepertiga dari kasus-kasus kanker termasuk kanker serviks dan kanker payudara datang ketempat pelayanan kesehatan pada stadium yang sudah lanjut dimana kanker tersebut sudah menyebar ke organ-organ lain di seluruh tubuh.

Disisi lain kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang kanker termasuk faktor-faktor risiko dan upaya pencegahannya masih kurang. Karena itu perlu ada suatu gerakan bersama, menyeluruh dan berkesinambungan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kanker terutama kanker serviks dan kanker payudara.

-

Subscribe

No Responses

Leave a Reply

Translate »